Fenomena behel sebenarnya sudah dimulai sejak tahun 2001, ketika
telenovela Betty la Fea ditayangkan di salah satu stasiun televisi
swasta. Namun, sosok Betty yang terlihat jelek dan kampungan dalam
telenovela tersebut membuat persepsi masyarakat terhadap pengguna behel
menjadi buruk. Setiap orang yang menggunakan behel pada tahun 2001-2003
seringkali dihina dan pasti dijuluki “Betty la Fea”.
Namun, berbeda halnya dengan zaman sekarang. Orang-orang yang
menggunakan behel akan dianggap sebagai orang yang gaul, gaya, dan
keren. Kemudian, behel ini pun sering dijadikan salah satu simbol
status. Dengan harga pemasangan behel yang merogoh kocek cukup dalam
tentunya menjadi sebuah kebanggaan bagi para pengguna behel karena tidak
semua orang bisa menggunakan behel.
Jika dilihat dari sejarahnya, behel ini sebenarnya sudah ada sejak
lama sekitar tahun 400-500 SM. Pada zaman tersebut, Hipocrates dan
Aristoteles telah memikirkan cara untuk membuat gigi menjadi lurus. Di
Yunani, penggunaan band metal pada mayat bertujuan untuk menjaga agar
gigi orang yang telah meninggal tidak tanggal. Kemudian, penemuan mumi
yang giginya terpasang band metal oleh seorang arkeolog membuat para
peneliti melakukan penelitian terkait dengan fungsi band metal untuk
meluruskan gigi. Akhirnya pada tahun 1900-an, orthodontist mulai muncul
dan berkembang mulai dari bentuk kayu, emas, platinum, dan perak.
Orthodontist sendiri di Indonesia sudah ada sejak tahun 1980-an. Akan
tetapi belum banyak masyarakat yang menggunakan dental bracket pada
tahun itu. Meskipun pada tahun 2001 masyarakat sudah mengenal dental
bracket, masyarakat masih tidak peduli dengan behel dan memiliki
stereotip yang buruk terhadap pengguna dental bracket.
Sebenarnya, tujuan pelurusan gigi yang telah lama dipikirkan oleh
Aristoteles dan Hipocrates adalah agar susunan gigi manusia sesuai
dengan susunan gigi sebagaimana mestinya.Dengan susunan gigi yang rapi,
maka fungsi kunyah akan berjalan dengan baik. Selain itu, gigi yang rapi
juga meminimalisir terjadinya lubang dan karang pada gigi.
Seiring perkembangan zaman, behel pun kini menjadi sebuah tren yang
fenomenal bagi anak muda. Selain untuk merapikan gigi, behel atau kawat
gigi ini pun berfungsi sebagai aksesoris yang fashionable serta
melambangkan status sosial. Kesan yang ditimbulkan jika seseorang
menggunakan kawat gigi ialah trendi dan fashionable. Maka dari itu,
tidaklah heran jika banyak anak muda ingin menggunakan behel.
Kemudian, fenomena behel ini tidak hanya digandrungi oleh kaum muda,
tetapi juga merambah hingga para pembantu rumah tangga dan ibu-ibu.
Melihat peluang ini, para pengusaha pun berlomba-lomba untuk memenuhi
hasrat dari konsumen. Sehingga yang terjadi adalah maraknya penjualan
behel dengan harga murah secara online (melalui blog, website, ataupun
situs jejaring sosial) dan juga maraknya ahli gigi yang menawarkan jasa
pemasangan behel dengan harga murah, bahkan ada pula tukang gigi
keliling yang memberikan jasa pemasangan behel dengan harga di bawah Rp
500.000,00.
Alasan Anak Muda Menggunakan Behel
Dari hasil wawancara kami terhadap 8 responden, yang terdiri dari 4
laki-laki dan 4 perempuan, kami menemukan beragam alasan mengenai
penggunaan behel. Meskipun sebagian besar dari responden menggunakan
behel dengan tujuan kesehatan yaitu agar gigi mereka rapi, kami juga
mendapati beberapa alasan yang unik mengapa mereka menggunakan behel.
Salah satu responden mengatakan alasan ia menggunakan behel adalah
karena ia tertarik dengan bentuk karet behel yang sekarang telah
memiliki banyak variasi. Ada pula yang mengatakan bahwa ia menggunakan
behel karena tidak percaya diri dengan giginya yang tidak “dipagari”
behel. Ada pula yang menggunakan behel karena menuruti saran dokter dan
orangtua. Tetapi, pada intinya mereka ingin tampil lebih percaya diri
setelah menggunakan behel.
Dari sini kami menemukan bahwa ada dua jenis kepercayaan diri yang
ditimbulkan setelah menggunakan behel. Ada sebagian responden yang
menjadi percaya diri setelah behelnya terpasang, namun ada pula sebagian
responden yang menjadi percaya diri setelah susunan giginya menjadi
rapi. Meskipun sama-sama bertujuan untuk meningkatkan kepercayaan diri,
kepercayaan diri ini memiliki pengertian yang berbeda.
Orthodontist Vs Ahli Gigi
Untuk memasang behel, diperlukan orthodontist yang telah mempelajari
dan memahami bagaimana susunan gigi yang baik. Akan tetapi, karena jasa
pemasangan behel yang diberikan oleh orthodontist sangat mahal (antara 7
juta s/d 17 juta rupiah) maka banyak orang menggunakan jasa ahli gigi
yang biaya pemasangannya jauh lebih murah.
Berdasarkan survei kami terhadap 8 responden, 3 dari 8 orang yang
mempercayakan ahli gigi untuk memasang behel. Sedangkan selebihnya
mempercayakan orthodontist. Dengan menggunakan jasa ahli gigi, mereka
dapat menggunakan behel dengan harga pemasangan yang murah dan tetap
mendapatkan pelayanan yang sama dengan pelayanan yang diberikan oleh
orthodontist. Selain itu, mereka juga bisa mendapatkan fasilitas kontrol
gratis dan bahkan jasa pemasangan behel gratis apabila mereka berhasil
merekomendasikan tukang gigi tersebut kepada teman-temannya.
Meskipun jasa pemasangan behel di orthodontist mahal, para responden
lebih mempercayainya karena orthodontist adalah orang yang telah
mempelajari dan memahami bagaimana susunan gigi yang benar. Apabila
pemasangan behel dilakukan oleh orang awam yang hanya mempelajari
mengenai orthodonti secara singkat maka kemungkinan untuk terjadi
kesalahan adalah sangat besar. Kesalahan tersebut dapat mengakibatkan
sakit kepala menahun dan banyak penyakit lainnya karena gigi merupakan
pusat syaraf anggota tubuh kita yang lain. Maka dari itu, para dokter
gigi di Indonesia menyarankan kepada masyarakat agar menggunakan jasa
orthodontist dalam pemasangan behel.
Anxiety berubah menjadi Desire, bahkan keduanya berjalan bersamaan
Dari hasil survei yang kami lakukan, kami dapat melihat bahwa anak
muda memiliki anxiety terhadap susunan giginya yang tidak rapi sehingga
mereka mau menggunakan behel. Dengan susunan gigi yang rapi, tentunya
akan membuat gigi menjadi lebih sehat karena lubang dan karang pada gigi
akan sulit terbentuk. Namun, ada pula yang menggunakan behel karena
takut dianggap tidak gaul, takut dianggap orang miskin, dsb.
Kemudian kami menemukan kegelisahan tersebut berubah menjadi hasrat
agar mereka diakui dan dapat tampil percaya diri. Selain itu, ada pula
yang menggunakan behel hanya untuk memenuhi emotional benefit-nya.
Seperti tertarik dengan warna karet yang unik, bentuk karet yang ia
sukai, dsb.
Lalu ada pula yang menggunakan behel karena kegelisahan dan sekaligus
hasrat dalam dirinya. Contohnya adalah yang terjadi pada salah satu
responden kami. Dia memilih untuk menggunakan behel lagi setelah giginya
rapi karena ia tidak percaya diri dengan tampilan barunya tanpa behel.
Selain itu, dia juga memiliki alasan agar tampil fashionable dengan
behel tersebut. Dari kasus ini terlihat bahwa anxiety dan desire pada
anak muda yang menggunakan behel berjalan sekaligus.
Melihat anxieties dan desire anak muda ini, para pebisnis pun
langsung mengambil kesempatan dengan menawarkan beragam paket behel
melalui internet dan bahkan memproduksi jenis behel baru seperti behel
fashion dan behel mainan. Banyak para pebisnis yang menawarkan kepada
masyarakat untuk menjadi reseller behel. Selain para pebisnis, ahli gigi
dan tukang gigi pun juga memanfaatkan momen ini. Maraknya penggunaan
sosial media di Indonesia sangat membantu para pebisnis dalam memasarkan
behel.
Jadi, tren behel yang terjadi saat ini membuka peluang bisnis yang
bagus bagi para pebisnis, meningkatkan kesadaran masyarakat Indonesia
terhadap kesehatan gigi, dan menjadi salah satu indicator untuk tampil
gaya. Sehat itu, cantik dan bergaya